kau telah memberiku rasa indah dan bermartabat dalam hidup ini
yang dulu terabaikan dalam nuansa ego percaya diriku
tertatih dan terkapar tanpa keremangan lilin kecil yang redup
tergolek lemah tak berdaya tanpa asa yang berpendar di hati indahku
yang dulu terabaikan dalam nuansa ego percaya diriku
tertatih dan terkapar tanpa keremangan lilin kecil yang redup
tergolek lemah tak berdaya tanpa asa yang berpendar di hati indahku
senja telah tenggelam dalam semburat jingga sang langit yang menawan
meninggalkan luka di relung hati yang berharap kerinduan
tanpa pernah menatap awan yang tersenyum indah pada sang bukit yang merintih
pergi dan tak kan pernah kembali lagi di peluk hangat sang hutan yang berjalan gontai
meninggalkan luka di relung hati yang berharap kerinduan
tanpa pernah menatap awan yang tersenyum indah pada sang bukit yang merintih
pergi dan tak kan pernah kembali lagi di peluk hangat sang hutan yang berjalan gontai
saat meradang telah memuncak dan tak terperikan di relung hati yang memerah
kau hadir dalam sapaan lembut dan senyum kedamaian di hati yang tak terkesampingkan
membuatku terpana dan tercenung dalam ketidakpastian memilih
kau raih dan jerat hati terindahku dengan rasa kasih sayang yang suci dan murni
membuatku terbangun dari mimpi gelapku yang melenakan dan membuai lelapku
kau hadir dalam sapaan lembut dan senyum kedamaian di hati yang tak terkesampingkan
membuatku terpana dan tercenung dalam ketidakpastian memilih
kau raih dan jerat hati terindahku dengan rasa kasih sayang yang suci dan murni
membuatku terbangun dari mimpi gelapku yang melenakan dan membuai lelapku
No comments:
Post a Comment