Thursday, 13 February 2014

wida

kamu selalu mengajariku mengais-ngais masa lalu,
memaksa ku tuk kembali menyentuh kenangan,
terdampar dalam bayang-bayang yang kau buat secara sengaja,
seakan-akan sosokmu nyata,
menjelma menjadi pahlawan kesiangan yang merusak kebahagiaan,
dalam kenangan kau seret aku perlahan,
menuju masa yang harusnya aku lupakan,
hingga aku kelelahan,
hingga aku sadar bahwa aku sedang dipermainkan,
inikah caramu menyakitiku?
inikah caramu mencabik-cabik perasaan ku?
apa dengan melihat tangisku itu berarti bahagia buat mu?
apa dengan menorehkan luka dihatiku berarti kemenangan bagimu?
siapa aku dimata mu?
hingga begitu sulit engkau lepaskan aku dari jeratanmu,
apakah boneka kecilmu ini dilarang untuk bahagia?
apakah wayang yang sering kau mainkan ini dilarang untuk mencari kebebasan?
mengapa kau selalu perlakukan aku seperti bayi-bayi?
kapan kau ajari aku kebebasan?
ajari aku untuk melupakan,
meniadakan segala kecemasan,
meniadakan segala kenangan,
nyatanya derai air mataku hanya disebabkan olehmu,
ajari aku cara melupakan,
sehingga aku lupa caranya menangis,
sehingga aku lupa caranya meratap,
karna aku selalu kenal air mata,
aku hanya ingin tertawa,
sehingga hati aku mati rasa akan luka.
 
 
 
dwitasari

Saturday, 1 February 2014

rasa indah

kau telah memberiku rasa indah dan bermartabat dalam hidup ini
yang dulu terabaikan dalam nuansa ego percaya diriku
tertatih dan terkapar tanpa keremangan lilin kecil yang redup
tergolek lemah tak berdaya tanpa asa yang berpendar di hati indahku
 
senja telah tenggelam dalam semburat jingga sang langit yang menawan
meninggalkan luka di relung hati yang berharap kerinduan
tanpa pernah menatap awan yang tersenyum indah pada sang bukit yang merintih
pergi dan tak kan pernah kembali lagi di peluk hangat sang hutan yang berjalan gontai
 
saat meradang telah memuncak dan tak terperikan di relung hati yang memerah
kau hadir dalam sapaan lembut dan senyum kedamaian di hati yang tak terkesampingkan
membuatku terpana dan tercenung dalam ketidakpastian memilih
kau raih dan jerat hati terindahku dengan rasa kasih sayang yang suci dan murni
membuatku terbangun dari mimpi gelapku yang melenakan dan membuai lelapku