sesuatu itu kunamakan pagi
ia
membuat dorongan visi untuk menatap dunia kembali. bagaikan nasihat
datangnya kehidupan baru yang terisi oleh ribuan perasaan. ia adalah
waktu untukku menyapa dan berbagi kebaikan pertama.
sesuatu itu kunamakan senja
ia adalah satu periode yang singkat kutemui. ia hadir di tempat
terbatas dan hanya sempat membuatku terkagum untuk sesaat. ia
membentangkan warna jingga serupa maya pandanganku, dan gerakanku hanya
memberi isyarat betapa ku tertegun karenanya.
sesuatu itu kunamakan malam
ia adalah keheningan dan penuh rahasia. serangkaian waktu yang
menyurutkan banyak kesibukan dan pelepas kelelahan. bercanda dengan pena
di jemari,mencari
cintamu yang sedikit terusik oleh dunia.
sesuatu itu kunamakan langit
ia selalu terlihat dan membekas di penglihatan mataku. ia memberi keteduhan sifat malu bersama
awan-awan, mengulas senyum dan membiarkan burung-burung menyapa
mengaguminya. ia akan memanggil pelangi setelah menyeru hujan untuk
mendinginkan hati.
sesuatu itu kunamakan bintang
ia akan selalu ditunggu sebagai hiasan langit yang hening. ia
memancarkan cahaya tanpa naungan cahaya lainnya. menatap dan mengagumimu
membisikkan inspirasi. ia begitu jauh tiada teraih. namun tercipta tuk
memberi kedamaian lubuk hati.
sesuatu itu kunamakan samudera
ia adalah samudera yang tiada diketahui kedalamannya. ia adalah
rahasia yang menyimpan keluarbiasaan yang merendahkan diri. ia adalah
ketenangan di hamparan kesabaran yang tak terukur.
sesuatu itu kunamakan angin
ia adalah hembusan menyejukkan untuk semua penjuru. ia mengalunkan
suara yang menyentuh irama terindah. ia mengantarkan ketentraman hati di sesaknya
kesedihan.
Tuesday, 26 November 2013
Friday, 22 November 2013
penantian
Apa sebutan untuk lukisan hati
yang berserak tak berbentuk
sebagaimana ceritamu yang datang pergi
dan membuatku bersembunyi
sepanjang perkataan pun lidahku kelu
dan pikiranku tertahan
satu saja ketika cahaya mata mengisyaratkan padaku
akan ketidaktahuan dan rahasia
menerka, diriku
kuhampirkan langkah untuk mendaki bukit hijau
dan menikmati luasnya perasaan
bahwa horison tak berbatas
aku mampu meraih, menggenggam
tak bertepi karena keberadaanmu
ada disini kala itu
sepanjang bunga tidur
tak tersirat aku rasa
aku hanya menenggak kepolosan berbahasa
aku terjebak dalam permainan angan
atau kau bersembunyi, namun lolos dari naluriku
dan menjaga hati, sementara ku padamkan
segala duga yang menghasut
menerka, jiwaku
aku ingin berada dalam puncak
yang menghapus penglihatanku yang sempit
penantian yang tidak pasti
pengharapan yang tak tentu
yang berserak tak berbentuk
sebagaimana ceritamu yang datang pergi
dan membuatku bersembunyi
sepanjang perkataan pun lidahku kelu
dan pikiranku tertahan
satu saja ketika cahaya mata mengisyaratkan padaku
akan ketidaktahuan dan rahasia
menerka, diriku
kuhampirkan langkah untuk mendaki bukit hijau
dan menikmati luasnya perasaan
bahwa horison tak berbatas
aku mampu meraih, menggenggam
tak bertepi karena keberadaanmu
ada disini kala itu
sepanjang bunga tidur
tak tersirat aku rasa
aku hanya menenggak kepolosan berbahasa
aku terjebak dalam permainan angan
atau kau bersembunyi, namun lolos dari naluriku
dan menjaga hati, sementara ku padamkan
segala duga yang menghasut
menerka, jiwaku
aku ingin berada dalam puncak
yang menghapus penglihatanku yang sempit
penantian yang tidak pasti
pengharapan yang tak tentu
dekat
aku masih tak mengucap kata,
seperti lirik lagu yang tak sempat jadi senandung,
atau rintik hujan tak berbekas jadi pelangi.
mungkin seperti tinta tak kuurai jadi puisi, seperti itulah jarak yang ada pada diriku,
untuk mencapai setapak dekat di langkahmu.
seperti lirik lagu yang tak sempat jadi senandung,
atau rintik hujan tak berbekas jadi pelangi.
mungkin seperti tinta tak kuurai jadi puisi, seperti itulah jarak yang ada pada diriku,
untuk mencapai setapak dekat di langkahmu.
Wednesday, 20 November 2013
):
so i keep my feeling inside of me, and just for me.
whether i am happy, or sad, or broken.
then,
i am feeling weird.
like no one trully knows me.
i am feeling lonely.
like no one cares much.
like i am having no where to go.
-ai-
whether i am happy, or sad, or broken.
then,
i am feeling weird.
like no one trully knows me.
i am feeling lonely.
like no one cares much.
like i am having no where to go.
-ai-
TUTUP KURUNG TITIK DUA
lihat aku,
cobalah pejamkan mata kamu.
bagaimana rasanya?
gelap,
sendiri,
kosong,
sunyi bukan?
itu karna kamu telah bersembunyi,
di hati orang lain..
-ai-
cobalah pejamkan mata kamu.
bagaimana rasanya?
gelap,
sendiri,
kosong,
sunyi bukan?
itu karna kamu telah bersembunyi,
di hati orang lain..
-ai-
):
Rumah tua mencoba menggantungkan sebuah harapan di tiangnya yang sudah mulai goyah.
Meskipun kini dia telah ditinggalkan oleh penghuninya, dia tetap mencoba berdiri diatas pondasinya yang rapuh, berharap sinar mentari selalu menghampiri celah-celah dinding yang sudah merenggang. Namun sang malam selalu menceraikannya dari sang fajar. Memaksa dia berdiam dalam gelam dan sunyinya malam.
Kadang dia harus bertahan sekuat tenaga dalam keterombangan oleh angin, agar dia tidak roboh dalam kerapuhannya. Menahankan kepedihan dinginya malam dan menahan sakitnya sengatan sang mentari. Berharap dia tetap bisa berdiri, menatap sang fajar memberikan sedikit cahaya keteduhan untuk tiangnya yang sudak miring.
Rumah tua hanya bisa menatap dalam diamnya setiap tingkah pola yang melintas dihalamannya. Melihat mereka tertawa dengan senangnya, bersenda gurau memadu kasih. Terkadang itu mengiris hatinya. Tak lagi dia berharap pada sang fajar pagi akan ada yang mau menghuninya. Dia pasrah dalam ketidakberdayaannya. Dia biarkan dukanya malam merenggut sang sinar pagi.
Namun manusia yang berteduh di bawah atapnya dari deraan hujan dan panas tidak pernah mau tahu derita yang harus ditahankan oleh rumah tua. Bila kepentingannya sudah terpenuhi kembali rumah tua ditinggalkan. Tanpa ada ucapan terima kasih atau maaf. Mereka meninggalkan jejak -jejak kepedihan dihalaman yang sudah semak oleh rumput liar. Itulah manusia dengan keegoisannya menghampirinya untuk memenuhi kepentingan mereka saja.
Tidak sadarkah mereka, bahwa tingkah mereka itu menambah kerapuhan pada dinding-dinding yang sudah keropos?
Siluet senja membingkai sejarah kehidupannya dan kabut pagi tabir perjalanannya. Jadilah dia pigura yang digantung pada sang malam.
-Tanpa suara, tanpa rasa, tanpa warna-
Meskipun kini dia telah ditinggalkan oleh penghuninya, dia tetap mencoba berdiri diatas pondasinya yang rapuh, berharap sinar mentari selalu menghampiri celah-celah dinding yang sudah merenggang. Namun sang malam selalu menceraikannya dari sang fajar. Memaksa dia berdiam dalam gelam dan sunyinya malam.
Kadang dia harus bertahan sekuat tenaga dalam keterombangan oleh angin, agar dia tidak roboh dalam kerapuhannya. Menahankan kepedihan dinginya malam dan menahan sakitnya sengatan sang mentari. Berharap dia tetap bisa berdiri, menatap sang fajar memberikan sedikit cahaya keteduhan untuk tiangnya yang sudak miring.
Rumah tua hanya bisa menatap dalam diamnya setiap tingkah pola yang melintas dihalamannya. Melihat mereka tertawa dengan senangnya, bersenda gurau memadu kasih. Terkadang itu mengiris hatinya. Tak lagi dia berharap pada sang fajar pagi akan ada yang mau menghuninya. Dia pasrah dalam ketidakberdayaannya. Dia biarkan dukanya malam merenggut sang sinar pagi.
Namun manusia yang berteduh di bawah atapnya dari deraan hujan dan panas tidak pernah mau tahu derita yang harus ditahankan oleh rumah tua. Bila kepentingannya sudah terpenuhi kembali rumah tua ditinggalkan. Tanpa ada ucapan terima kasih atau maaf. Mereka meninggalkan jejak -jejak kepedihan dihalaman yang sudah semak oleh rumput liar. Itulah manusia dengan keegoisannya menghampirinya untuk memenuhi kepentingan mereka saja.
Tidak sadarkah mereka, bahwa tingkah mereka itu menambah kerapuhan pada dinding-dinding yang sudah keropos?
Siluet senja membingkai sejarah kehidupannya dan kabut pagi tabir perjalanannya. Jadilah dia pigura yang digantung pada sang malam.
-Tanpa suara, tanpa rasa, tanpa warna-
Monday, 11 November 2013
Subscribe to:
Posts (Atom)
