Rumah tua mencoba menggantungkan sebuah harapan di tiangnya yang sudah mulai goyah.
Meskipun kini dia telah ditinggalkan oleh penghuninya, dia tetap mencoba
berdiri diatas pondasinya yang rapuh, berharap sinar mentari selalu
menghampiri celah-celah dinding yang sudah merenggang. Namun sang malam
selalu menceraikannya dari sang fajar. Memaksa dia berdiam dalam gelam
dan sunyinya malam.
Kadang dia harus bertahan sekuat tenaga dalam keterombangan oleh
angin, agar dia tidak roboh dalam kerapuhannya. Menahankan kepedihan
dinginya malam dan menahan sakitnya sengatan sang mentari. Berharap dia
tetap bisa berdiri, menatap sang fajar memberikan sedikit cahaya
keteduhan untuk tiangnya yang sudak miring.
Rumah tua hanya bisa menatap dalam diamnya setiap tingkah pola yang
melintas dihalamannya. Melihat mereka tertawa dengan senangnya, bersenda
gurau memadu kasih. Terkadang itu mengiris hatinya. Tak lagi dia
berharap pada sang fajar pagi akan ada yang mau menghuninya. Dia pasrah
dalam ketidakberdayaannya. Dia biarkan dukanya malam merenggut sang
sinar pagi.
Namun manusia yang berteduh di bawah atapnya dari deraan hujan dan
panas tidak pernah mau tahu derita yang harus ditahankan oleh rumah tua.
Bila kepentingannya sudah terpenuhi kembali rumah tua ditinggalkan.
Tanpa ada ucapan terima kasih atau maaf. Mereka meninggalkan jejak
-jejak kepedihan dihalaman yang sudah semak oleh rumput liar. Itulah
manusia dengan keegoisannya menghampirinya untuk memenuhi kepentingan
mereka saja.
Tidak sadarkah mereka, bahwa tingkah mereka itu menambah kerapuhan pada dinding-dinding yang sudah keropos?
Siluet senja membingkai sejarah kehidupannya dan kabut pagi tabir
perjalanannya. Jadilah dia pigura yang digantung pada sang malam.
-Tanpa
suara, tanpa rasa, tanpa warna-
No comments:
Post a Comment